Telah berbilang malam semayup tembangmu jua yang ku nanti,
meski dalam ruap cemburu dan getir asa yang membumbung pergi,
meski dalam benci ku renungi saja titi nadamu ... yang kadang sumbang ...
Telah berbilang malam semayup tembangmu jua yang temaniku,
kala menimang perih ... merangkul duka ...
kala semua kata meluruh menjadi embun dingin ... beku ...
Telah berbilang malam semayup tembangmu jua yang selalu berbisik,
'Dunia tak berhenti di sini ... belum lagi berhenti'
'Jangan mengejekku, burung bodoh!" ... meski selalu itu jawabku
Tembang itu masih terus semayup ternyata ...
Terdengar serak sekarang ...
Lelahkah kau?
Setiap patah katamu melengkung dan merenggas dalam semestaku ...
Sudahlah ...
Tidur saja, tak usah menembang lagi ...
Dunia memang tak berhenti untukku ... tidak sampai aku berhenti.
Aku akan beranjak ... karena diamku masih melangkah ...
Entah ke mana ... entah sampai kapan ..
Tidur saja ... tak usah menembang lagi ...
Bandung, 22 Agustus 2010
Categories:
Poems
