SOLITUDE

(Ini cerita terbaru dari serial FOR OLD TIME SAKE PROJECT)


"Waaaahhh ... terima kasih banyak, Pak! Baik banget ...!" kira-kira begitulah bahasa senyumku kepada seorang bapak setengah baya yang telah dengan baik hati mau bergeser dan kasih aku tempat di angkot yang penuh sesak itu. Ffffuuuuhh ... terpaksa memang tetep ngotot naik angkot ini ... udah sore, gerimis pula! Daripada nelangsa di pinggir jalan ...masih jauh lebih baik desek-desekan kayak gini, deh!

Tak berapa lama setelah berhasil duduk (dengan tidak nyaman, karena yang nempel cuma 'sebelah') dan mulai menikmati pemandangan lewat jendela angkot yang burem, Si Bapak Baik itu bertanya, "Maaf, dulu kuliahnya di Taruna Bakti bukan, Mbak?" Doooohhh ... langsung deh berasa jadi orang terkenal ... hehehe! Maka dengan tak kalah ramahnya aku pun menjawab,"Iya, Pak." Dan tanya jawab yang cukup panjang pun terjadilah, hingga sampai pada satu konklusi bahwa Si Bapak Baik ini adalah orang yang sangat aku kenal di zaman kuliah dulu. 

Dulu ... Si Bapak Baik ini adalah seorang penjaga kampus. Tugasnya selain menjaga sekolah (tentu sajaaaaa ...!) adalah bersih-bersih juga. Sebangsanya nyapu, ngepel, nyabutin rumput, ngelap kaca dan lain-lain. Dan tambahannya juga, harus siap disuruh-suruh. Bapak Baik ini sejak dulu memang baik. Rajin, terbukti dari ruangan kelas yang selalu dalam keadaan bersih jauh sebelum mahasiswi pertama dateng ke kampus. Sabar, karena ga pernah sekalipun aku liat dia pasang tampang ruwet. Selalu tersenyum ... tak peduli sesadis apapun kami - para penyamin - ngegodain dia. Satu-satunya pertahanan diri yang dia lakukan jika sudah berada dalam kondisi itu adalah ngeloyor pergi dengan sebuah cengiran lebar di wajahnya. Dan sebagai penghargaan atas segala kebaikannya itu, kami memberinya julukan James Bond!

Tapi di atas segalanya, ada satu hal yang bikin si Bapak Baik ini begitu mudah mengenali aku setelah belasan tahun ga pernah ketemu. Karenaaaa ... (duh ... haruskah kuteruskan?) ... dulu ... (hhhhh ...!) ... dialah yang selalu bopong aku dari ruang kelas ke ruang UKS di lantai bawah, setiap kali aku jatuh pingsan (huuuwwaaaa ...!). Dulu aku memang sering sekali semaput (Baca : JAGA TUNGKAI ANDA, TEMAN-TEMAN!) di kampus, dan karena ruang kelas kami berada di ruang atas, dan teman satu kelas memang semua perempuan yang lemah gemulai ... maka pilihan sebagai petugas pembopong selalu jatuh pada si Bapak Baik ini. Dalam dialog di atas angkot itu pun ... dia menyinggung-nyinggung lagi masalah yang bagiku sangat memalukan itu. Dia bilang,"Sekarang masih suka pingsan, ga?" seraya memamerkan sebuah cengiran lebar yang persis sama seperti dulu. Glek .... aku hanya mampu bicara dengan nada yang getir,"Ga, laaahh ... sekarang mah udah kuat!"

Ya! Sekarang aku ga pernah semaput dan pingsan lagi ... dan sekarang Si Bapak Baik ini pun sudah bukan lagi penjaga sekolah. Dia cerita kalo dia sekarang kerjanya di 'dalem'. Di dalem, di ruang dosen ... duduk satu ruangan dengan orang-orang yang dulu sering nyuruh-nyuruh dia beli minuman, gorengan, ato pesenin bakso Mang Ateng. Sekarang Si Bapak Baik ini punya meja sendiri ... sama seperti orang-orang yang dulu selalu nyuruh dia bersihin meja, buangin sampah, nurunin tas dari mobil, dan ... ngangkut seorang mahasiswi di lantai atas yang doyan banget pingsan. Sekarang si Bapak Baik ini adalah Petugas Tata Usaha! 

Betul, aku inget sekarang! Beberapa tahun sebelum pertemuan di angkot itu, aku pernah dateng ke kampus untuk melegalisir ijazah. Dan karena antrian cukup panjang, maka seorang petugas meminta kami - para pengantri - untuk meninggalkan ijazah kami di meja, dan mengambilnya besok karena Bapak Rus, petugas Tata Usaha yang bertanggung jawab untuk urusan yang begini-begini hari ini ga masuk. Saat itu aku ga ngeh ... kalo yang dimaksud Bapak Rus itu adalah orang yang sama dengan penjaga sekolah yang merangkap sebagai petugas pembopong.
Subhanallah...

Hal sederhana dan sudah sangat lazim memang ...jika seseorang memiliki jalan hidup seperti Si Bapak Rus ini. Tapi ga tau kenapa, cerita dia - yang dia sampaikan dengan nada yang sangat lugas - sanggup membuat aku ngerasa takjub. Mungkin karena di sisa ingatan aku tentang dia adalah dia yang seorang penjaga sekolah, maka membayangkan dia duduk di belakang meja, di dalam ruangan besar bersama para dosen dan petugas-petugas yang lain,  menjadi seperti membaca sebuah dongeng yang berakhir bahagia ... and he lives happily  ever after. Hal yang sederhana ini menjadi begitu luar biasa buat aku.

Bapak Rus ... kita memang punya jalan masing-masing, ya?
Yet ... I'm happy for you
Read More …

Tergugu melihat foto (somewhere around this note) itu. Mengamati hingga detail terkecilnya. "Lomba Baca Puisi Piala Rendra, se Jabar & DKI Jakarta, Tasikmalaya 21-23 September 1989." 

Tuhaaan...!
Setelah 23 tahun, potongan peristiwa depicted by that picture sempat hilang dari memoriku. Benar-benar hilang! Pooofff...! Perlu empat hari untuk bisa mengingatnya lagi.  Berhasil, meski pun tidak terlalu utuh. 
 
Samar-samar aku ingat ... berbondong-bondong ke tempat lomba bersama teman-temanku di kelompok teater. Latihan terakhir di luar gedung (asli ... ga berhasil mengingat gedung apakah itu!), beberapa menit sebelum giliran tampil. Melepas kacamata sebelum naik panggung ... karena melihat sekian puluh pasang mata yang serempak menatapku adalah kengerian yang melumpuhkan! Maka dengan minus 2.75 - ku, aku bisa  dengan gagah berani menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan ... termasuk juri dan semua penonton. Menularkan keheningan beberapa detik ... untuk menghimpun segenap perhatian mereka agar fokus padaku ... hanya aku! (itu yang diajarkan oleh satu pembimbingku). Menarik napas, menahannya satu dua detik, menghembuskannya perlahan sambil berkonsentrasi dan membiarkan diri diserap habis oleh naskah puisi yang akan aku baca - Balada Terbunuhnya Atmo Karpo! (menakjubkan! dua puluh tiga tahun yang lalu aku bisa melakukan hal seperti itu ... membiarkan segenap rasa dan pikiran diserap oleh sesuatu di luar aku! Ck...ck...ck!) Menjadikan diriku si penulis puisi, mencoba memahami jiwa yang ditiupkannya  ke dalam puisi itu.
 
Pada saat seperti itu, aku bisa lupa bahwa aku berdiri di atas panggung, ditatap puluhan pasang mata, dinilai juri, dikirimi sekian puluh doa oleh teman-temanku yang duduk berjejer di barisan belakang - berharap-harap cemas. Jujur ... yang aku rasakan di saat seperti itu hanyalah nikmatnya melebur dalam barisan kata-kata yang berlimpah makna dan energi ... membiarkan ruh-nya membalut rasa dan pikiranku hingga kuyup. Seperti terbang ... ke satu tempat tanpa apa pun, tempat di mana aku bisa sendirian ... dan berpuisi. 
Indah. Nikmatnya luar biasa ...

Setelah selesai ... baru aku merasakan sengatan rasa panas yang menjalar dari leher, lalu naik ke mukaku. Aku telah kembali ke dunia nyata .... Tasikmalaya 21-23 September 1989. Maka jarak panggung dan kursi penonton rasanya seperti ratusan kilometer. Ujung-ujung jari tanganku terasa dingin, dan perutku terasa seperti habis menelan sebuah balon gas seukuran bantal kursi. Selalu ... paniknya datang belakangan. Selalu ... setelah aku tahu aku harus keluar dari tempat tanpa apa-apa itu ... dan menjadi nyata.
 
Ah, ya! Meskipun sempat hilang 23 tahun lamanya ... aku bersyukur masih bisa mengingat betapa pada jeda saat sidang juri ... W.S. Rendra (alm.), dengan kekuatannya yang tidak pernah bisa tertandingi, menguncang seisi gedung, membius semua orang yang ada di dalamnya. Aku terkesima melihat Si Burung Merak itu, dengan keangkuhan yang begitu mempesona, mengembangkan ekornya yang indah, memamerkannya dengan congkak. Ada yang berdentum-dentum di dalam kepala dan dadaku! Asli ... aku terkesima! Terus terkesima ... bahkan ketika semua orang berdesakan di depan panggung untuk meminta tanda tangan Sang Legenda. Di buku catatan, naskah puisi, kaos putih baru yang memang sengaja dibeli untuk menampung tanda tangan itu, di baju yang tengah dikenakan ... semua orang bersuka cita dengan euforia itu. Tapi aku seperti terpaku pasak besi di atas kursiku ... hanya mataku saja menatap semua gerakan yang nyaris chaos di depan ku.
 
Hanya ketika gedung kembali senyap ... ketika semua perhatian diberikan untuk dewan juri yang akan membacakan keputusan sidang mereka. Aku baru tersadar! Tolol! Tak ada satu pun bukti bahwa aku pernah satu gedung dengan W.S. Rendra, yang bisa aku bawa pulang. Dan tidak ada sesibackstage pula! Tolol! Aaaarrrggghh...!
 
Meskipun sedikit terhapus dengan rasa bangga karena berhasil menjadi salah satu pemenang dalam lomba itu (salah satu pembimbingku bilang ... akulah pemenang utamanya, tapi aku belum yakin, aku tak berhasil mengingat bagian itu dengan utuh. dia harus memberiku sebuah bukti yang otentik! hehehe!), rasa dongkol itu aku masih aku bawa hingga beberapa minggu kemudian.

Tuhan, aku berterima kasih karena telah membiarkanku mendapatkan kembali ingatan yang sempat hilang atas peristiwa indah ini ... sangat! Tak sekedar kembali ... tapi membantuku menyadari bahwa - meski mungkin kecil maknanya untuk beberapa orang - aku bisa melakukan sesuatu yangmeaningful, paling tidak untuk diriku sendiri. Bahwa jauh di dalam aku sebenarnya selalu ada keberanian untuk menjadi diri sendiri dan menjaga sebuah tempat tanpa apa-apa itu untuk sewaktu-waktu ku singgahi, sebergejolak apa pun semua yang terjadi di sekitarku. Seperti aku yang berhasil terbang bebas di tengah tension yang ditebarkan atmosfir lomba di gedung itu. Bagiku ... ini adalaheffort luar biasa untuk manusia jenis Ketam Batu seperti aku. Sungguh!
Lalu sekarang ... aku mulai tidak ingin memikirkan dan mengumpulkan alasan untuk tidak berani.  Ada Tuhan, ada aku, ada kawan, ada ruang, ada puisi ...
 
Ah ... aku memang harus (sekali lagi) berterima kasih kepada semua orang di kelompok teater itu ... Lentera(ku) ... yang benar-benar telah menyala untukku. Kepada semua pembimbingku, yang sudah bersusah payah menyakinkan aku - Si Ketam Batu - untuk keluar dari balik batu, naik ke pentas, dan menang! Kepada semua teman sesama siswa Bina Akting ... yang telah membuatku percaya bahwa tidak perlu harus sedarah untuk menjadi satu jiwa. 


Indah ...
Read More …

Telah berbilang malam semayup tembangmu jua yang ku nanti,
meski dalam ruap cemburu dan getir asa yang membumbung pergi,
meski dalam benci ku renungi saja titi nadamu ... yang kadang sumbang ...

Telah berbilang malam semayup tembangmu jua yang temaniku,
kala menimang perih ... merangkul duka ...
kala semua kata meluruh menjadi embun dingin ... beku ...

Telah berbilang malam semayup tembangmu jua yang selalu berbisik,
'Dunia tak berhenti di sini ... belum lagi berhenti'
'Jangan mengejekku, burung bodoh!" ... meski selalu itu jawabku
  
Tembang itu masih terus semayup ternyata ...
Terdengar serak sekarang ...
Lelahkah kau?
Setiap patah katamu melengkung dan merenggas dalam semestaku ...
Sudahlah ...
Tidur saja, tak usah menembang lagi ...
Dunia memang tak berhenti untukku ... tidak sampai aku berhenti.
Aku akan beranjak ... karena diamku masih melangkah ...
Entah ke mana ... entah sampai kapan ..

Tidur saja ... tak usah menembang lagi ...


Bandung, 22 Agustus 2010
Read More …

Sore itu ... di bulan puasa yang panas ... seperti biasa aku pulang kantor bersama sepeda motor kesayanganku - Si Semok. Mendadak ... tanpa sebuah peringatan ... sebuah angkot berhenti sekitar 1 meter di depan saya!
Refleks saya buang kemudi ke kanan, bermaksud menghindari tabrakan.
Tapi ... bbbbrrrruuuuaaaakkk ...!!!
Astaghfirullah ...! Hanya kata itu yang sempat keluar dari mulut saya. Setelah itu pandangan saya kabur dan telinga saya berdenging. Tidak pingsan, hanya saja selama beberapa detik (atau mungkin menit) saya tidak bisa melihat apa-apa. Hanya bisa mendengar sayup-sayup suara-suara orang berteriak, langkh-langkah kaki berlari dan perintah-perintah pendek yang diucapkan dengan tergesa-gesa untuk segera membawa saya & Si Semok ke pinggir jalan. Meskipun dalam kondisi setengah pingsan saya menolak untuk dibopong (?). Saya mencoba berdiri sendiri walau sambil berpegangan pada sepasang tangan yang terjulur di hadapan muka saya.
Satu detik ... dua detik ... tiga detik ... empat detik ....! Saya berhitung dalam hati dengan susah payah ... saat perlahan kemampuan mata saya kembali, meskipun belum sepenuhnya pulih - saya masih melihat benang-benang berwarna kuning dan ungu berkilat-kilat memenuhi udara. Lalu dengan sebuah gerakan mabuk yang lumayan cepat, saya berhasil membuka helm yang terasa menjepit kepala saya yang berdenyut-denyut. Ada luka di pipi kanan saya tertusuk pecahan kaca helm, darah mengalir pelan dari luka yang masih kebas itu. Terasa hangat tapi justru membuat saya ketakutan. Saya pun merasa mual dan pening ... kepala saya masih berdenyut-denyut dan luka di pipi kanan mulai terasa perih.
Orang-orang di situ menyarankan agar saya segera mencari pertolongan untuk luka-luka saya. Dan sekali lagi saya menolak untuk dibopong (?). Maka dengan langkah-langkah yang tertatih (lutut saya terasa lemas dan gemetar) saya mengikuti seseorang menuju Puskesmas terdekat. Di sana luka-luka saya dibersihkan dengan cairan antiseptik. Ternyata tidak hanya di pipi kanan itu saja luka saya ... ada luka cukup dalam memanjang dari dagu sisi kanan sampai ke tengah-tengah tulang rahang bawah, lalu luka di lutut dan pergelangan kaki kanan serta punggung tangan, memar di pangkal paha dan tulang kering kaki kanan. Sakitnya jangan ditanya ... karena di atas luka-luka itu menempel pasir dan pecahan-pecahan aspal. Rupanya .. menurut pengakuan seorang saksi mata .. setelah terguling dari atas motor, saya meluncur dengan sisi kanan badan saya di atas aspal jalan yang tidak rata. Jadilah saya meringis dan menjerit-jerit kecil saat luka-luka itu dibersihkan.
Ssssshhhhh ...!!
Setelah membayar biaya perawatan (setelah disiksa masih harus bayar pula .... mmmmmppphh!), dengan diantar petugas Puskesmas, saya kembali ke TKP. Di sana aku melihat orang-orang masih berkerumun ... dan ... ya, Allah ... motor (kreditan) saya hancur! Spion kanannya pecah ... sama seperti saya kerusakan-kerusakannya pun berkisar di sisi kanan. Kasihan ...!
Begitu melihat saya datang, orang-orang segera membawa Si Penabrak ke hadapanku.
Ternyata seorang bocah ABG (dengan potongan rambut yang paling saya benci - poni menutup mata!) dan ibunya plus bawaan mereka yang seabrek-abrek! Belum satu patah katapun keluar dari mulut saya ... sebagai Si Korban ... Si Ibu sudah merepet seribu satu kata pembelaan diri yang menyebalkan. Ups ...! Tentu saja saya - yang masih pening, sedang puasa pula, belum lagi harus merasakan perih dan sakit di sana sini - semakin mual saja mendengarnya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak bicara apa-apa. Setelah menghadiahi Si Ibu pengumpat itu dengan tatapan yang (semoga dia bisa melihatnya) bicara,"Lu dan anak lu yang berponi gila itu, memang sakit! Sakit!" ... saya berlalu menjauh dari dua manusia idiot itu dan membiarkan warga di situ menyelesaikan urusan ganti rugi (yang sebenarnya tak saya inginkan). Lewat magrib, barulah urusan itu selesai. Si Poni Gila dan ibunya itu hanya bersedia mengganti kerugian material sebear 100.000 rupiah saja (yang langsung saya berikan kepada orang-orang yang telah menolong saya).
Tanpa satu kata permintaan maaf pun terucap dari mulut mereka.
Menurut saya ... itulah inhumanity kecil-kecilan yang terjadi di jalanan. Suatu tindakan menuju peniadaaan indentitas kemanusiaan individu lain. Bayangkan saja ... dengan sikap sombong dan arogan yang tolol itu ... tak satu katapun dari mereka untuk saya yang menyiratkan penyesalan dan permintaan maaf (padahal Si Poni Gila itu jelas-jelas menabrak saya dari belakang). Mereka bersikeras merasa sudah menjadi pengguna jalan teladan dengan memacu sepeda motor di luar batas toleransi dan ditambah barang bawaan mereka yang memakan ruang kosong di sisi kiri dan kanan ... hampir selebar truk kontainer!!Tak usahlah mengharapkan permohonan maaf atau penyesalan yang eksplisit (terlalu mewah saya kira) ... yang implisit saja tidak keluar.
Lantas ... apakah saya ini di mata mereka? Seekor kuman?
Luar biasa!
Jika mereka merasa dan mengaku sebagai manusia berbudaya, sudah semestinya mereka mampu bertenggang rasa dan memiliki rasa empati kepada sesama manusia. Dan kalaupun mereka tetap bersikeras (dengan tololnya) merasa tidak bersalah ... paling tidak membela dirilah dengan cara dan bahasa manusia. Namun yang terjadi adalah mereka menghargai segenap rasa kemanusiaan saya hanya dengan secuir kertas bernilai 100.000 rupiah saja!
Ya, Rabbi ...
Kali lain, sebuah angkot sarat penumpang menyerobot jalur saya dari arah yang berlawanan! Bayangkan!
Tak ingin peristiwa "inhumanity" dengan Si Poni Gila itu terulang lagi ... kali ini saya tak ingin mengalah! Saya memutuskan dengan cepat bahwa saya tidak akan minggir! Kalaupun harus tabrakan ... terjadilah! Yang terpenting kemanusiaan saya terselamatkan dengan sangat terhormat. Saya sudah tak ambil pusing lagi dengan kemacetan yang telah mengular di belakang saya.
Setelah berhenti dengan satu hentakan rem yang dahsyat, Sang Sopir angkot melongokan kepalanya dari jendela ... dan mulai memaki," .... (silahkan isi sendiri dengan pilihan kata makian yang Anda rasa paling tepat)!"
Wwuuuiiiiihh ...! Darah manusia saya langsung naik ke ubun-ubun. Saya pun turun dari motor. Membuka helm (agar lantang suara saya terdengar jelas oleh Sang Sopir itu). Lalu melangkah murka ke arah angkot durjana itu!
Tanpa menunggu aba-aba dari otak, kaki saya sudah terlebih dahulu menendang pintu angkot itu ... sangat keras ... hingga penyok. Dan saya pun balas memaki," ...(silahkan isi sendiri dengan pilihan kata makian yang Anda rasa paling tepat)!"
Lalu yang terjadi selanjutnya adalah ... tanpa rasa malu Sang Sopir itu mengajak saya berkelahi!
Ayooo ...! Siapa takut?! Saya pun bersiap-siap ... namun sayang orang-orang disekitar situ turun tangan menormalisasi keadaan. Uh! Padahal telapak tangan saya sudah gatal ingin menampar mulut kotor sopir angkot itu!
Satu lagi contoh inhumanity kecil-kecilan (dijalanan).
Jelas sekali ada sebagian orang (dengan sangat tidak tahu malu) merasa jalan raya adalah milik pribadi. Jadi mereka merasa berhak penuh untuk melakukan apa saja yang mereka suka di jalanan ... termasuk merampas hak dan menganiaya pengguna jalan lainnya.
Inhumanity!
Ya .. Allah!
Saya tidak berani membayangkan inhumanity besar-besaran yang setiap hari terjadi di muka bumi ini. Yang kecil-kecilan saja sudah berhasil membuat saya terpontal-pontal dan miris setengah mati! Jadi selama saya belum berani menatap dunia secara makro ... saya kira lebih baik saya menatapnya dari sebuah celah sempit saja. Paling tidak sebagai sebuah upaya untuk memelihara humanity saya.
Semoga ...
(Eh, setelah melihat pintu angkot yang penyok dan rangkaian kemacetan parah ... menurut Anda apakah saya juga telah melakukan inhumanity kecil-kecilan?)
Pamulang, 25 April 2009
Read More …

Lereng gundul itu termenung
Di antara riuh gumam ilalang yang bergesekan
Angin datang menerjang ... lantas diam ...
Mengambang ...
Sesak ...
Dan akhirnya luruh ..
Di atas seonggok puing
Yang entah situs atau mungkin buangan tembok kota.

Tak tahu apa yang digambarkan Sang Alam ..

Yang jelas ... lereng gundul itu tetap termenung
Dan angin yang lewat selalu diam ...
Sesak ..
Dan luruh ...


(So ... what do you think?)


Pamulang, April 2009
Read More …