SOLITUDE

Tergugu melihat foto (somewhere around this note) itu. Mengamati hingga detail terkecilnya. "Lomba Baca Puisi Piala Rendra, se Jabar & DKI Jakarta, Tasikmalaya 21-23 September 1989." 

Tuhaaan...!
Setelah 23 tahun, potongan peristiwa depicted by that picture sempat hilang dari memoriku. Benar-benar hilang! Pooofff...! Perlu empat hari untuk bisa mengingatnya lagi.  Berhasil, meski pun tidak terlalu utuh. 
 
Samar-samar aku ingat ... berbondong-bondong ke tempat lomba bersama teman-temanku di kelompok teater. Latihan terakhir di luar gedung (asli ... ga berhasil mengingat gedung apakah itu!), beberapa menit sebelum giliran tampil. Melepas kacamata sebelum naik panggung ... karena melihat sekian puluh pasang mata yang serempak menatapku adalah kengerian yang melumpuhkan! Maka dengan minus 2.75 - ku, aku bisa  dengan gagah berani menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan ... termasuk juri dan semua penonton. Menularkan keheningan beberapa detik ... untuk menghimpun segenap perhatian mereka agar fokus padaku ... hanya aku! (itu yang diajarkan oleh satu pembimbingku). Menarik napas, menahannya satu dua detik, menghembuskannya perlahan sambil berkonsentrasi dan membiarkan diri diserap habis oleh naskah puisi yang akan aku baca - Balada Terbunuhnya Atmo Karpo! (menakjubkan! dua puluh tiga tahun yang lalu aku bisa melakukan hal seperti itu ... membiarkan segenap rasa dan pikiran diserap oleh sesuatu di luar aku! Ck...ck...ck!) Menjadikan diriku si penulis puisi, mencoba memahami jiwa yang ditiupkannya  ke dalam puisi itu.
 
Pada saat seperti itu, aku bisa lupa bahwa aku berdiri di atas panggung, ditatap puluhan pasang mata, dinilai juri, dikirimi sekian puluh doa oleh teman-temanku yang duduk berjejer di barisan belakang - berharap-harap cemas. Jujur ... yang aku rasakan di saat seperti itu hanyalah nikmatnya melebur dalam barisan kata-kata yang berlimpah makna dan energi ... membiarkan ruh-nya membalut rasa dan pikiranku hingga kuyup. Seperti terbang ... ke satu tempat tanpa apa pun, tempat di mana aku bisa sendirian ... dan berpuisi. 
Indah. Nikmatnya luar biasa ...

Setelah selesai ... baru aku merasakan sengatan rasa panas yang menjalar dari leher, lalu naik ke mukaku. Aku telah kembali ke dunia nyata .... Tasikmalaya 21-23 September 1989. Maka jarak panggung dan kursi penonton rasanya seperti ratusan kilometer. Ujung-ujung jari tanganku terasa dingin, dan perutku terasa seperti habis menelan sebuah balon gas seukuran bantal kursi. Selalu ... paniknya datang belakangan. Selalu ... setelah aku tahu aku harus keluar dari tempat tanpa apa-apa itu ... dan menjadi nyata.
 
Ah, ya! Meskipun sempat hilang 23 tahun lamanya ... aku bersyukur masih bisa mengingat betapa pada jeda saat sidang juri ... W.S. Rendra (alm.), dengan kekuatannya yang tidak pernah bisa tertandingi, menguncang seisi gedung, membius semua orang yang ada di dalamnya. Aku terkesima melihat Si Burung Merak itu, dengan keangkuhan yang begitu mempesona, mengembangkan ekornya yang indah, memamerkannya dengan congkak. Ada yang berdentum-dentum di dalam kepala dan dadaku! Asli ... aku terkesima! Terus terkesima ... bahkan ketika semua orang berdesakan di depan panggung untuk meminta tanda tangan Sang Legenda. Di buku catatan, naskah puisi, kaos putih baru yang memang sengaja dibeli untuk menampung tanda tangan itu, di baju yang tengah dikenakan ... semua orang bersuka cita dengan euforia itu. Tapi aku seperti terpaku pasak besi di atas kursiku ... hanya mataku saja menatap semua gerakan yang nyaris chaos di depan ku.
 
Hanya ketika gedung kembali senyap ... ketika semua perhatian diberikan untuk dewan juri yang akan membacakan keputusan sidang mereka. Aku baru tersadar! Tolol! Tak ada satu pun bukti bahwa aku pernah satu gedung dengan W.S. Rendra, yang bisa aku bawa pulang. Dan tidak ada sesibackstage pula! Tolol! Aaaarrrggghh...!
 
Meskipun sedikit terhapus dengan rasa bangga karena berhasil menjadi salah satu pemenang dalam lomba itu (salah satu pembimbingku bilang ... akulah pemenang utamanya, tapi aku belum yakin, aku tak berhasil mengingat bagian itu dengan utuh. dia harus memberiku sebuah bukti yang otentik! hehehe!), rasa dongkol itu aku masih aku bawa hingga beberapa minggu kemudian.

Tuhan, aku berterima kasih karena telah membiarkanku mendapatkan kembali ingatan yang sempat hilang atas peristiwa indah ini ... sangat! Tak sekedar kembali ... tapi membantuku menyadari bahwa - meski mungkin kecil maknanya untuk beberapa orang - aku bisa melakukan sesuatu yangmeaningful, paling tidak untuk diriku sendiri. Bahwa jauh di dalam aku sebenarnya selalu ada keberanian untuk menjadi diri sendiri dan menjaga sebuah tempat tanpa apa-apa itu untuk sewaktu-waktu ku singgahi, sebergejolak apa pun semua yang terjadi di sekitarku. Seperti aku yang berhasil terbang bebas di tengah tension yang ditebarkan atmosfir lomba di gedung itu. Bagiku ... ini adalaheffort luar biasa untuk manusia jenis Ketam Batu seperti aku. Sungguh!
Lalu sekarang ... aku mulai tidak ingin memikirkan dan mengumpulkan alasan untuk tidak berani.  Ada Tuhan, ada aku, ada kawan, ada ruang, ada puisi ...
 
Ah ... aku memang harus (sekali lagi) berterima kasih kepada semua orang di kelompok teater itu ... Lentera(ku) ... yang benar-benar telah menyala untukku. Kepada semua pembimbingku, yang sudah bersusah payah menyakinkan aku - Si Ketam Batu - untuk keluar dari balik batu, naik ke pentas, dan menang! Kepada semua teman sesama siswa Bina Akting ... yang telah membuatku percaya bahwa tidak perlu harus sedarah untuk menjadi satu jiwa. 


Indah ...

Categories:

Leave a Reply