SOLITUDE

Sore itu ... di bulan puasa yang panas ... seperti biasa aku pulang kantor bersama sepeda motor kesayanganku - Si Semok. Mendadak ... tanpa sebuah peringatan ... sebuah angkot berhenti sekitar 1 meter di depan saya!
Refleks saya buang kemudi ke kanan, bermaksud menghindari tabrakan.
Tapi ... bbbbrrrruuuuaaaakkk ...!!!
Astaghfirullah ...! Hanya kata itu yang sempat keluar dari mulut saya. Setelah itu pandangan saya kabur dan telinga saya berdenging. Tidak pingsan, hanya saja selama beberapa detik (atau mungkin menit) saya tidak bisa melihat apa-apa. Hanya bisa mendengar sayup-sayup suara-suara orang berteriak, langkh-langkah kaki berlari dan perintah-perintah pendek yang diucapkan dengan tergesa-gesa untuk segera membawa saya & Si Semok ke pinggir jalan. Meskipun dalam kondisi setengah pingsan saya menolak untuk dibopong (?). Saya mencoba berdiri sendiri walau sambil berpegangan pada sepasang tangan yang terjulur di hadapan muka saya.
Satu detik ... dua detik ... tiga detik ... empat detik ....! Saya berhitung dalam hati dengan susah payah ... saat perlahan kemampuan mata saya kembali, meskipun belum sepenuhnya pulih - saya masih melihat benang-benang berwarna kuning dan ungu berkilat-kilat memenuhi udara. Lalu dengan sebuah gerakan mabuk yang lumayan cepat, saya berhasil membuka helm yang terasa menjepit kepala saya yang berdenyut-denyut. Ada luka di pipi kanan saya tertusuk pecahan kaca helm, darah mengalir pelan dari luka yang masih kebas itu. Terasa hangat tapi justru membuat saya ketakutan. Saya pun merasa mual dan pening ... kepala saya masih berdenyut-denyut dan luka di pipi kanan mulai terasa perih.
Orang-orang di situ menyarankan agar saya segera mencari pertolongan untuk luka-luka saya. Dan sekali lagi saya menolak untuk dibopong (?). Maka dengan langkah-langkah yang tertatih (lutut saya terasa lemas dan gemetar) saya mengikuti seseorang menuju Puskesmas terdekat. Di sana luka-luka saya dibersihkan dengan cairan antiseptik. Ternyata tidak hanya di pipi kanan itu saja luka saya ... ada luka cukup dalam memanjang dari dagu sisi kanan sampai ke tengah-tengah tulang rahang bawah, lalu luka di lutut dan pergelangan kaki kanan serta punggung tangan, memar di pangkal paha dan tulang kering kaki kanan. Sakitnya jangan ditanya ... karena di atas luka-luka itu menempel pasir dan pecahan-pecahan aspal. Rupanya .. menurut pengakuan seorang saksi mata .. setelah terguling dari atas motor, saya meluncur dengan sisi kanan badan saya di atas aspal jalan yang tidak rata. Jadilah saya meringis dan menjerit-jerit kecil saat luka-luka itu dibersihkan.
Ssssshhhhh ...!!
Setelah membayar biaya perawatan (setelah disiksa masih harus bayar pula .... mmmmmppphh!), dengan diantar petugas Puskesmas, saya kembali ke TKP. Di sana aku melihat orang-orang masih berkerumun ... dan ... ya, Allah ... motor (kreditan) saya hancur! Spion kanannya pecah ... sama seperti saya kerusakan-kerusakannya pun berkisar di sisi kanan. Kasihan ...!
Begitu melihat saya datang, orang-orang segera membawa Si Penabrak ke hadapanku.
Ternyata seorang bocah ABG (dengan potongan rambut yang paling saya benci - poni menutup mata!) dan ibunya plus bawaan mereka yang seabrek-abrek! Belum satu patah katapun keluar dari mulut saya ... sebagai Si Korban ... Si Ibu sudah merepet seribu satu kata pembelaan diri yang menyebalkan. Ups ...! Tentu saja saya - yang masih pening, sedang puasa pula, belum lagi harus merasakan perih dan sakit di sana sini - semakin mual saja mendengarnya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak bicara apa-apa. Setelah menghadiahi Si Ibu pengumpat itu dengan tatapan yang (semoga dia bisa melihatnya) bicara,"Lu dan anak lu yang berponi gila itu, memang sakit! Sakit!" ... saya berlalu menjauh dari dua manusia idiot itu dan membiarkan warga di situ menyelesaikan urusan ganti rugi (yang sebenarnya tak saya inginkan). Lewat magrib, barulah urusan itu selesai. Si Poni Gila dan ibunya itu hanya bersedia mengganti kerugian material sebear 100.000 rupiah saja (yang langsung saya berikan kepada orang-orang yang telah menolong saya).
Tanpa satu kata permintaan maaf pun terucap dari mulut mereka.
Menurut saya ... itulah inhumanity kecil-kecilan yang terjadi di jalanan. Suatu tindakan menuju peniadaaan indentitas kemanusiaan individu lain. Bayangkan saja ... dengan sikap sombong dan arogan yang tolol itu ... tak satu katapun dari mereka untuk saya yang menyiratkan penyesalan dan permintaan maaf (padahal Si Poni Gila itu jelas-jelas menabrak saya dari belakang). Mereka bersikeras merasa sudah menjadi pengguna jalan teladan dengan memacu sepeda motor di luar batas toleransi dan ditambah barang bawaan mereka yang memakan ruang kosong di sisi kiri dan kanan ... hampir selebar truk kontainer!!Tak usahlah mengharapkan permohonan maaf atau penyesalan yang eksplisit (terlalu mewah saya kira) ... yang implisit saja tidak keluar.
Lantas ... apakah saya ini di mata mereka? Seekor kuman?
Luar biasa!
Jika mereka merasa dan mengaku sebagai manusia berbudaya, sudah semestinya mereka mampu bertenggang rasa dan memiliki rasa empati kepada sesama manusia. Dan kalaupun mereka tetap bersikeras (dengan tololnya) merasa tidak bersalah ... paling tidak membela dirilah dengan cara dan bahasa manusia. Namun yang terjadi adalah mereka menghargai segenap rasa kemanusiaan saya hanya dengan secuir kertas bernilai 100.000 rupiah saja!
Ya, Rabbi ...
Kali lain, sebuah angkot sarat penumpang menyerobot jalur saya dari arah yang berlawanan! Bayangkan!
Tak ingin peristiwa "inhumanity" dengan Si Poni Gila itu terulang lagi ... kali ini saya tak ingin mengalah! Saya memutuskan dengan cepat bahwa saya tidak akan minggir! Kalaupun harus tabrakan ... terjadilah! Yang terpenting kemanusiaan saya terselamatkan dengan sangat terhormat. Saya sudah tak ambil pusing lagi dengan kemacetan yang telah mengular di belakang saya.
Setelah berhenti dengan satu hentakan rem yang dahsyat, Sang Sopir angkot melongokan kepalanya dari jendela ... dan mulai memaki," .... (silahkan isi sendiri dengan pilihan kata makian yang Anda rasa paling tepat)!"
Wwuuuiiiiihh ...! Darah manusia saya langsung naik ke ubun-ubun. Saya pun turun dari motor. Membuka helm (agar lantang suara saya terdengar jelas oleh Sang Sopir itu). Lalu melangkah murka ke arah angkot durjana itu!
Tanpa menunggu aba-aba dari otak, kaki saya sudah terlebih dahulu menendang pintu angkot itu ... sangat keras ... hingga penyok. Dan saya pun balas memaki," ...(silahkan isi sendiri dengan pilihan kata makian yang Anda rasa paling tepat)!"
Lalu yang terjadi selanjutnya adalah ... tanpa rasa malu Sang Sopir itu mengajak saya berkelahi!
Ayooo ...! Siapa takut?! Saya pun bersiap-siap ... namun sayang orang-orang disekitar situ turun tangan menormalisasi keadaan. Uh! Padahal telapak tangan saya sudah gatal ingin menampar mulut kotor sopir angkot itu!
Satu lagi contoh inhumanity kecil-kecilan (dijalanan).
Jelas sekali ada sebagian orang (dengan sangat tidak tahu malu) merasa jalan raya adalah milik pribadi. Jadi mereka merasa berhak penuh untuk melakukan apa saja yang mereka suka di jalanan ... termasuk merampas hak dan menganiaya pengguna jalan lainnya.
Inhumanity!
Ya .. Allah!
Saya tidak berani membayangkan inhumanity besar-besaran yang setiap hari terjadi di muka bumi ini. Yang kecil-kecilan saja sudah berhasil membuat saya terpontal-pontal dan miris setengah mati! Jadi selama saya belum berani menatap dunia secara makro ... saya kira lebih baik saya menatapnya dari sebuah celah sempit saja. Paling tidak sebagai sebuah upaya untuk memelihara humanity saya.
Semoga ...
(Eh, setelah melihat pintu angkot yang penyok dan rangkaian kemacetan parah ... menurut Anda apakah saya juga telah melakukan inhumanity kecil-kecilan?)
Pamulang, 25 April 2009

Categories:

Leave a Reply