Tahukan Anda bahwa Chaplin pernah ke Indonesia, tepatnya ke Bandung dan dilanjutkan berkunjung ke Garut? Dan beberapa tahun sebelum meninggal dia menyempatkan diri datang ke Yogyakarta.
Ini buktinya!
CHAPLIN, SUATU HARI
Kunjungan pertama Chaplin pada tahun 1927. Ia menginap di Bandung dan ditemani artis cantik Mary Pickford. Dari Bandung, ia bertamasya ke Garut. Nama Garut didengarnya dari brosur-brosur maskapai pelayaran Belanda.
Setelah berhenti di Cibatu, mereka berkendaraan menuju Garut. Kunjungan Chaplin Ke Bandung adalah pada tahun 1935.
Indonesia agaknya memiliki daya tarik tersendiri bagi badut ini. Sebab pada tahun 1962, ketika berumur 73 tahun, ia datang lagi. ........ Kali ini secara khusus ke Yogyakarta untuk menikmati sendratari Ramayana di Prambanan.
Seperti dikutip harian Indonesia Observer, 31 Juli 1961, ia mengatakan,
" ... tarian Kijang Kencana, misalnya, tak ada bandingannya. Saya tidak butuh penjelasan tentang tari itu. Saya benci penjelasan. Saya bisa menangkap segalanya ... Saya benar-benar tergerak oleh keindahan ... Mati pada saat itu tak berarti apa-apa bagi saya ... kecuali kebahagiaan."
Chaplin meninggal pada tahun 1977, dalam usia 88 tahun. Entah apakah pengalaman jenaka dan mengesankan di Indonesia itu dibawanya sampai kubur atau tidak.
(Seno Joko Utoyo, Koran Tempo edisi Kamis, 9 April 2009)
Seorang Charlie Chaplin ... dunia mengenalnya dengan sangat baik, bahkan sebagian memujanya ... memiliki sebuah cerita, kenangan dan kesan yang begitu indah tentang Indonesia.
Tanah air saya ... tanah air kamu!
Secara pribadi ... sebagai seorang yang lahir dan besar (dan mungkin akan mati) di Indonesia ... selama ini saya belum pernah mengalami keajaiban hati seperti yang pernah dialami Chaplin! Entah mungkin karena saya merasa sudah sangat kenal dengan Indonesia ... sehingga perut saya terasa kenyang dengan segala cerita carut marut yang terjadi di Indonesia. Atau mungkin karena saya berasal dari golongan menengah ... yang hampir separuh waktunya habis untuk mencari nafkah dan urusan tetek bengek rumah tangga ... sehingga terlalu letih untuk berusaha lebih memahami Indonesia.
Saya tidak tahu pasti.
Sekali dua kali ... ketika saya berkunjung ke (sedikit sekali) tempat-tempat wisata ... hati saya memang bergumam,"Indah sekali rumahku ini!" Tapi hanya sebatas itu ... rutinitas sehari-hari tak pernah bisa membuat kesan itu tinggal lebih lama dalam hati dan kepala saya.
Tapi setelah membaca artikel Mas Seno itu ... tadi pagi, setelah selesai dengan urusan rumah tangga ... tiba-tiba saya terkesiap! Charlie Chaplin seperti membangunkan saya! Toh saya tidak harus menjadi seorang public figure untuk mendapatkan kesan dan pemahaman seperti yang didapat Chaplin ketika dia datang ke Indonesia. Saya dapat dengan mudah mencintai dan mengagumi negara ini dengan cara yang sangat sederhana, cara yang saya mampu. Saya tidak perlu menjadi anggota masyarakat golongan atas agar punya waktu untuk sedikit "memikirkan" Indonesia. Yang perlu saya lakukan hanya berhenti merasa sudah mengenal Indonesia dengan cukup baik ... seperti Charlie Chaplin, berhenti untuk meminta penjelasan ... bahkan dari diri sendiri ... tentang apa dan bagaimana Indonesia, serta terus melakukan apa yang selama ini sudah saya lakukan untuk hidup saya.
Sebagai orang Indonesia ....
Anda?
Serpong, April 2009
Ini buktinya!
CHAPLIN, SUATU HARI
Kunjungan pertama Chaplin pada tahun 1927. Ia menginap di Bandung dan ditemani artis cantik Mary Pickford. Dari Bandung, ia bertamasya ke Garut. Nama Garut didengarnya dari brosur-brosur maskapai pelayaran Belanda.
Setelah berhenti di Cibatu, mereka berkendaraan menuju Garut. Kunjungan Chaplin Ke Bandung adalah pada tahun 1935.
Indonesia agaknya memiliki daya tarik tersendiri bagi badut ini. Sebab pada tahun 1962, ketika berumur 73 tahun, ia datang lagi. ........ Kali ini secara khusus ke Yogyakarta untuk menikmati sendratari Ramayana di Prambanan.
Seperti dikutip harian Indonesia Observer, 31 Juli 1961, ia mengatakan,
" ... tarian Kijang Kencana, misalnya, tak ada bandingannya. Saya tidak butuh penjelasan tentang tari itu. Saya benci penjelasan. Saya bisa menangkap segalanya ... Saya benar-benar tergerak oleh keindahan ... Mati pada saat itu tak berarti apa-apa bagi saya ... kecuali kebahagiaan."
Chaplin meninggal pada tahun 1977, dalam usia 88 tahun. Entah apakah pengalaman jenaka dan mengesankan di Indonesia itu dibawanya sampai kubur atau tidak.
(Seno Joko Utoyo, Koran Tempo edisi Kamis, 9 April 2009)
Seorang Charlie Chaplin ... dunia mengenalnya dengan sangat baik, bahkan sebagian memujanya ... memiliki sebuah cerita, kenangan dan kesan yang begitu indah tentang Indonesia.
Tanah air saya ... tanah air kamu!
Secara pribadi ... sebagai seorang yang lahir dan besar (dan mungkin akan mati) di Indonesia ... selama ini saya belum pernah mengalami keajaiban hati seperti yang pernah dialami Chaplin! Entah mungkin karena saya merasa sudah sangat kenal dengan Indonesia ... sehingga perut saya terasa kenyang dengan segala cerita carut marut yang terjadi di Indonesia. Atau mungkin karena saya berasal dari golongan menengah ... yang hampir separuh waktunya habis untuk mencari nafkah dan urusan tetek bengek rumah tangga ... sehingga terlalu letih untuk berusaha lebih memahami Indonesia.
Saya tidak tahu pasti.
Sekali dua kali ... ketika saya berkunjung ke (sedikit sekali) tempat-tempat wisata ... hati saya memang bergumam,"Indah sekali rumahku ini!" Tapi hanya sebatas itu ... rutinitas sehari-hari tak pernah bisa membuat kesan itu tinggal lebih lama dalam hati dan kepala saya.
Tapi setelah membaca artikel Mas Seno itu ... tadi pagi, setelah selesai dengan urusan rumah tangga ... tiba-tiba saya terkesiap! Charlie Chaplin seperti membangunkan saya! Toh saya tidak harus menjadi seorang public figure untuk mendapatkan kesan dan pemahaman seperti yang didapat Chaplin ketika dia datang ke Indonesia. Saya dapat dengan mudah mencintai dan mengagumi negara ini dengan cara yang sangat sederhana, cara yang saya mampu. Saya tidak perlu menjadi anggota masyarakat golongan atas agar punya waktu untuk sedikit "memikirkan" Indonesia. Yang perlu saya lakukan hanya berhenti merasa sudah mengenal Indonesia dengan cukup baik ... seperti Charlie Chaplin, berhenti untuk meminta penjelasan ... bahkan dari diri sendiri ... tentang apa dan bagaimana Indonesia, serta terus melakukan apa yang selama ini sudah saya lakukan untuk hidup saya.
Sebagai orang Indonesia ....
Anda?
Serpong, April 2009
Categories:
Shared
