SOLITUDE

Siapa bilang jadi perempuan itu repot? Jadi perempuan itu menyenangkan!

Bukan karena saya seorang perempuan, lantas saya berani bilang begitu. Selain ungkapan "Lady's first" yang memberi sekian banyak kemudahan untuk perempuan, kekuatannya yang tak terlihat memungkinkan seorang perempuan sanggup bertahan hidup dalam situasi yang paling berat sekalipun.

Fakta dalam kehidupan sehari-hari memperlihatkan bahwa banyak sekali perempuan yang dapat bertahan hidup dan menghidupi anak-anaknya tanpa pasangan, namun tercatat hanya sedikit lelaki yang dapat bertahan tanpa pasangan. Banyak cerita orang sukses yang berawal dari sebuah keluarga tanpa ayah, banyak pula cerita keberhasilan seorang suami yang mendapatkan kekuatan dukungan dari seorang istri. Meski tak bisa dipungkiri banyak pula cerita-cerita miris tentang perempuan, istri dan ibu.

Istri dan Ibu ... perempuan.
Bukan suatu pilihan, namun sebuah peran.
Peran yang seringkali di-marginalkan dalam masyarakat patriatrik kita. Peran yang seringkali sengaja dikecilkan atas nama norma dan budaya timur. Padahal campur tangan perempuan dalam menentukan pola perilaku masyarakat sangatlah besar. Karena pendidikan yang paling dasar didapat seseorang dari rumah .. dari seorang ibu. Tanggung jawab seorang ibu dalam menghasilkan seorang manusia berkualitas seringkali tidak sebanding dengan pengakuan dan penghargaan yang diterimanya. Baik dari pasangannya ataupun dari masyarakatnya.

Namun ... saya khususnya ... perempuan tidak harus berkecil hati dengan kenyataan yang tidak terlalu menguntungkan itu. Menikmati peran sebagai seorang perempuan, istri atau ibu, adalah sebuah kesenangan tersendiri. Bahkan dari hal-hal yang sederhana sekalipun ... karena kesederhanaan itu indah dan megah.
Apakah Anda ... perempuan ... tidak merasa bangga melihat pasangan Anda ... yang sepanjang hidupnya selalu meneriakkan simbol-simbol yang membahasakan kekuatan dan kekuasaan ... setengah mati kerepotan saat terpaksa harus mengambil alih tugas-tugas harian Anda (saat Anda terbaring sakit misalnya), atau saat dia harus membujuk Si Kecil agar berhenti menangis, atau kebingungan membedakan mana baju "rumah" dan mana baju "pergi" ... ?
Padahal dengan mudah kita bisa melakukan empat bahkan lima pekerjaan sekaligus ... kalau perlu dalam satu tarikan napas. Kita dapat berbangga hati karena saat Si Kecil sedang sedih, marah atau ketakutan ... kitalah, ibunya, yang dia cari. Saat itu kita menjadi sebuah dunia. Berbahagialah kita, karena di Indonesia ini hanya ada Hari Ibu. Karena kita dapat dengan berkuasa meminta Si Ayah melepas alas kaki setiap kali hendak masuk rumah.
A .. ha!


Perempuan .. istri dan ibu.
Bukanlah suatu pilihan. Namun sebuah peran.
Sebuah peran yang indah ... layaknya puisi, lagu dan lukisan yang terilhami oleh keberadaan perempuan.

Nikmatilah dari sisinya yang paling sederhana ... kemudian segala sesuatu tentang menjadi perempuan akan terasa sangat indah.


Serpong, 10 April 2009

Categories:

Leave a Reply