SOLITUDE

Mendung menggantung pagi ini, matahari bersembunyi di ketiak mega yang meraja.
Alangkah dinginnya pagi ini....
Tuhan-ku!

Ah ... mengapa begitu sulit kujabarkan rasaku kali ini.
Ada mendung yang menutup rasaku ... ada duka yang menyumbat tangisku ...
Seperti mega ... yang meraja pagi ini.

Mendung menggantung pagi ini, matahari bersembunyi di ketiak mega yang meraja.
Alangkah dinginnya pagi ini ...
Tuhan-ku!

Ada bagian jiwaku yang tak dapat ku kenali ...
Ada malu berkuasa, walau untuk sekedar berkaca mematut diri ... bahkan sekedar menyentuh ujung rasa.
Ada mega yang menutup mataku.
Ada sesak yang menggantung.
Seperti mendung pagi ini ...

Tuhan-ku ...
Tangisku tersangkut di kerongkongan
Tak dapat ku kenali lagi jiwa ini
Mataku terlalu malu untuk menatap bayangku sendiri
Sesak ini mendera ... menyiksa ...

Dukakah ini namanya? Atau dosa? Atau penyesalan?
Akan diri akan kehilang "aku"?
Menguap bagai kabut ... menghilang dalam diam ...
Tinggalkan diri ... berjalan sendiri ...
tersandung ...
terpuruk ...
mati?

Adakah tangan yang tulus tawarkan dekap?
Hangatkan rasaku ...?
Biarkan tangisku mengalun ...?
Agar sesak tak lagi mendera,
Agar dapat ku lihat lagi bayangku di cermin ...

Wahai ... dekap ragaku ...
Senandungkan syair hidup untukku ..
Tak ingin diri kehilangan "aku"
Tidak sekarang ... tidak juga nanti!

Dekaplah ...
Rengkuhlah ...

Pagi ini terlalu dingin ...



Pamulang, 13 April 2009

Categories:

Leave a Reply